Toyota Agya dan Daihatsu Ayla siap bikin jalanan tambah macet

toyota agyaMenurut informasi dari salesman nasmoco, bagi yang berminat membeli Toyota Agya sudah bisa inden dengan DP 2,5 juta. Harga mobil tersebut berkisar antara 80 juta hingga 120 juta. Dua buah mobil hasil kolaborasi PT. Toyota Astra Motor (TAM) dan PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) yang dirilis Rabu (19/9/2012) yang lalu ini diyakini sebagai mobil LCGC (Low Cost Green Car).

Mengapa harganya tergolong murah? Pemerintah membebaskan bea masuk (BM) mesin, perakitan, serta komponen mobil berbasis LCGC. Fasilitas itu diberikan guna merangsang pembangunan dan pengembangan mobil LCGC di dalam negeri, baik di sektor permesinan, perakitan, maupun komponen.

Agya-Ayla menggunakan mesin 1.000 cc 3-silinder yang menerapkan teknologi penghemat bahan bakar sehingga mampu mencapai 30 Km per liter. Mulai Oktober tahun ini Agya dan Ayla siap diproduksi di pabrik baru Astra Daihatsu Motor di Karawang yang kapasitas produksinya mencapai 120.000 unit pertahun. Presiden Direktur Astra Group Prijono Sugiarto yakin kedua produk ini akan sukses di pasar karena penetrasi penjualan kendaraan bermotor masih rendah dan jumlah masyarakat menengah ke atas naik.

Kenaikan golongan menengah ke atas di Indonesia yang saat ini mencapai 40 juta orang diyakini akan meningkatkan permintaan terhadap mobil, khususnya produk mobil murah ramah lingkungan. Namun pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengkhawatirkan dengan adanya insentif untuk LCGC, kemacetan bakal menjadi-jadi jika mobil itu dipasarkan di dalam negeri. Ia memprediksi dalam dua tahun lagi, semua kota di Indonesia macet teramat parah di tengah pertumbuhan infrastruktur jalan yang sangat lamban. Apalagi harga mobil semakin terjangkau masyarakat dan prosedur pembeliannya sangat mudah dibandingkan di negara maju seperti Singapura.

Di Singapura prosedur membeli mobil sangat sulit. Selain dikenai pajak dan biaya parkir yang tinggi, calon pembeli harus punya surat lisensi pembelian yang mencapai sekitar 700 juta dan harus memiliki garasi di rumahnya. Sehingga ada kemungkinan biaya pengurusan izin pembelian mobil bisa lebih mahal daripada harga mobilnya. Sedangkan di Indonesia orang tidak punya rumah saja bisa memiliki mobil. Nekat membeli mobil dan diparkir di jalanan bahkan masih bisa beli BBM bersubsidi. Sehingga idealnya mobil berbasis LCGC diekspor.

*) Sumber: kemenperin, bisnis.com, antaranews.com, leblogauto.com