ancaman terhadap kedaulatan Indonesia di dunia maya

Pengguna layanan internet umumnya menginginkan akses yang cepat dan terbuka sebebas-bebasnya terhadap semua konten di internet. Ketika ada pemblokiran terhadap sesuatu di internet, orang akan protes baik secara halus maupun kasar. Padahal sebagaimana layaknya orang tua yang bertanggungjawab untuk menghindarkan hal-hal yang buruk dari anak-anaknya, demikian pulalah yang wajib dilakukan oleh negara terhadap warganya.

Tulisan Nonot Harsono di detik.com semoga dapat membuka wawasan warga Indonesia tentang ancaman kerugian yang dapat terjadi pada bangsanya. Dan menumbuhkan kesadaran untuk menjadi pengguna internet yang lebih pintar dan dewasa.

Fakta yang tidak disadari banyak orang Indonesia adalah bahwa globalisasi dan perdagangan bebas merupakan dua hal yang menjadi agenda tetap negara maju, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Negara maju akan selalu berusaha mendorong keterbukaan dunia maya, akan memaksa negara lain agar jaringan global tidak perlu diatur, mengarahkan negara di dunia maya tanpa tapal batas, dalam rangka membangun dominasi mereka di dunia maya.

Dalam tulisannya tersebut Nonot Harsono memberikan beberapa contoh ancaman yang jika agenda tetap tersebut tidak mampu dikendalikan negara, pada akhirnya akan merugikan orang Indonesia di masa yang akan datang.

Ancaman ekonomi. Komoditas digital yang non-fisik semakin beragam sehingga lalu lintas “barang dagangan” melalui internet tanpa perlu lewat pelabuhan. Dengan demikian tidak melalui bea cukai, belum terjangkau audit perpajakan, tidak melalui custom-clearence, tidak ada commercial present, dll. Intinya, tidak ada kendali negara dan tidak ada kedaulatan ekonomi.

Ancaman keamanan transaksi online. Pergeseran transaksi bisnis dari temu-fisik menjadi transaksi secara online menuntut perhatian dalam hal keamanan transaksi dan kepercayaan masyarakat untuk menggunakannya. Negara harus menjamin keamanan transaksi online. Infrastruktur untuk itu harus dibangun dan dimiliki Indonesia agar mampu berdaulat dalam menata dan memantau lalu-lintas perdagangan online nasional. Namun saat ini masih menggunakan infrastruktur milik luar negeri, sehingga rekaman kegiatan perdagangan online berada di luar negeri.

Ancaman globalisasi ideologi, politik, sosial-budaya terhadap anak Indonesia. Setiap orang yang pegang smartphone dan gadget lainnya dapat berhubungan secara bebas dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Keterhubungan yang seperti ini membuat negara menjadi tanpa tapal batas. Ajaran-ajaran negatif yang dapat tersamarkan melalui bermacam konten hiburan di internet langsung dikonsumi oleh orang Indonesia tua dan muda.

Lihatlah sekitar kita sekarang budaya timur Indonesia mulai terkikis oleh budaya barat, karena dianggap lebih simpel dan nyaman. Sebagai contoh, sebut saja budaya 3S (senyum, sapa dan salam) yang membuat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, makin sulit untuk ditemukan dalam keseharian. Sekarang 3S bukan dengan orang tapi dengan gadgetnya masing-masing. Jika hal ini terjadi pada orang dekat Anda, segera lakukan penyelamatan sebelum lebih jauh memperburuk kecerdasan emosionalnya.

Ancaman eksploitasi data pribadi. Semua orang yang terhubung ke dunia maya rentan terhadap kejahatan cyber dan penyalahgunaan data pribadi. Semakin banyak aplikasi yang mencatat data-data pribadi, nomer telepon bahkan nomer IMEI gadget untuk mempelajari kebiasaan seseorang yang selanjutnya dianalisis dan diperjualbelikan untuk kepentingan bisnis. Tak lama kemudian orang tersebut akan mendapat penawaran produk barang/jasa, hingga informasi yang menipu.

Ancaman perang cyber. Dalam perang fisik, yang dirusak adalah fasilitas-fasilitas fisik lawan. Keterhubungan di dunia maya memungkinkan terjadinya perang cyber, sasarannya adalah layanan publik yang berbasis teknologi digital. Misalnya sistem elektronik pemerintahan, sistem elektronik perbankan, sistem elektronik kesehatan, sistem kendali transportasi, sistem kendali pemakaian energi seperti listrik, sistem elektronik media massa, dll.

Ancaman kedaulatan di dunia maya adalah suatu keniscayaan dan sebagian dari yang disebutkan diatas sudah sedang terjadi. Mari berbuat agar kita orang Indonesia tidak terpuruk makin dalam.

Bring home a newly born baby in comfort

My sister-in-law is at her seventh month of pregnancy now, so there are a couple of months left to prepare things for her baby. Since it will be her first experience to have a baby, she and her husband sometimes consult us about things they should prepare. Like a wise man say “There’s always a first time”. I remember those times when I was about to be a father. I kept asking The Man Above “let her be a normal baby”. I was inside the birth room, holding my wife while she gave birth.

Anyway, one thing I remember clearly is the day when we took our newly born baby home. We had no car, so we borrowed one from our neighbor. It was a good car but was not so comfortable in my opinion. May be it was just my feeling, but at that time I really felt the importance to have a special car seat for our baby, so I drove very carefully and a bit slower than normal and finally brought her home safe and sound.

Today when my sister-in-law came to visit us, I told her that they should get one of those convertible car seats. It will not be just for one time use because they have their own car. It can be useful for at least the next 2 or 3 years ahead until the baby grows to be a toddler. It would also be useful for the second arrival. Even probably for us, because we are planning to give Katrin a brother :). By the way, when browsing the internet for information about car seat for baby, I found this  interesting shopping site. They have a different style than any other normal shopping site. There are many kinds of things there listed in a simple order but informative enough. I think it’s worth a try for shoppers.