Syarat-syarat mengurus NPWP

Share

Info terakhir tentang NPWP:

saat ini untuk mengurus NPWP kita tidak perlu datang ke kantor pajak karena dapat diurus secara online melalui situs dirjen pajak. Untuk petunjuknya bisa download disini. Untuk persyaratannya tetap seperti tulisan saya yang dulu sebagai berikut:

————————————————————————————

Jika tiba-tiba merasa malu karena belum punya NPWP lalu ingin segera mengurusnya, berikut ini beberapa hal yang perlu disiapkan :

1. Untuk wajib pajak orang pribadi baik yang punya usaha ataupun tidak, perlu menyiapkan KTP jika sebagai penduduk indonesia atau paspor jika orang asing.

2. Untuk wajib pajak badan perlu disiapkan :

  • akte pendirian dan perubahan atau surat keterangan penunjukkan dari kantor pusat bagi bentuk usaha tetap
  • NPWP pimpinan atau penanggung jawab badan
  • KTP untuk penduduk indonesia atau paspor untuk orang asing sebagai penanggung jawab

3. Untuk bendahara sebagai wajib pajak pemungut atau pemotong

  • Surat penunjukan sebagai bendahara
  • KTP bendahara

4. Untuk joint operation bagi wajib pajak pemungut atau pemotong

  • Perjanjian kerja sama atau akte pendirian joint operation
  • KTP untuk penduduk indonesia atau paspor untuk orang asing sebagai penanggung jawab
  • NPWP pimpinan atau penanggung jawab badan

5. Untuk NPWP orang pribadi yang berstatus sebagai pengurus, komisaris, pemegang saham dan pegawai dapat melalui pemberi kerja atau bendaharawan pemerintah.

Pengurusan dapat dilakukan di kantor pelayanan pajak tanpa dipungut biaya alias gratis.

Kartu Peserta Asuransi Manulife Tidak Dipercaya Di RS Panti Rini Kalasan

Saya sering melihat berita di televisi tentang orang-orang yang lemah secara finansial tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak di rumah sakit. Ternyata pelayanan kesehatan di indonesia masih sangat memperhitungkan kemampuan finansial calon pasien sebelum memberikan layanan kesehatan. Bahkan meskipun punya kartu peserta asuransi, belum tentu juga dipercaya. Hal ini saya alami sendiri.

Kebetulan isteri saya harus dirawat di rumah sakit akhir minggu lalu. Kantornya bekerja sama dengan asuransi manulife dimana setiap karyawan dan keluarganya diberi kartu peserta asuransi. Menurut informasi dari kantor, jika karyawan harus rawat inap di rumah sakit rekanan maka cukup tunjukkan saja kartu peserta asuransi manulife tersebut dan karyawan tidak akan direpotkan dengan urusan pembayaran.

Namun tidak demikian yang kami alami. Setelah menunjukkan kartu peserta asuransi manulife kepada petugas kassa rumah sakit panti rini, ia mengatakan bahwa ia harus menelpon dulu pihak asuransi manulife untuk mendapatkan kepastian bahwa isteri saya memang dijamin oleh asuransi manulife. Ia meminta saya untuk memberikan fotocopy KTP dan kartu peserta asuransi manulife isteri saya. Maka saya pun harus keluar dari rumah sakit untuk mencari tempat fotocopy yang letaknya jauh dari rumah sakit.

Ketika saya menyerahkan syarat-syarat tersebut, ia mengatakan bahwa ia tidak yakin akan dapat menghubungi pihak asuransi manulife karena saat itu hari sabtu sore dan kemungkinan kantor manulife sudah tutup. Sedangkan keesokan harinya adalah hari minggu sehingga pasti kantornya tutup. Jadi intinya kartu peserta asuransi manulife tersebut tidak berguna dan saya harus bayar saja dulu dan penggantian diurus belakangan. Saya pun mengiyakan saja karena tidak ingin berdebat dengan pihak rumah sakit. Yang menjadi perhatian utama saya saat itu adalah bagaimana agar isteri saya dapat segera sehat kembali.

Syukurlah akhirnya isteri saya sudah boleh pulang dan sekarang dalam masa pemulihan.
Yang tersisa sekarang adalah kerepotan yang menyita waktu dan tenaga untuk mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mendapatkan penggantian dari asuransi manulife. Seharusnya kerepotan ini tidak harus saya alami jika saja kartu peserta asuransi manulife dipercaya oleh pihak rumah sakit panti rini kalasan.