alternatif mengatasi krisis energi

Cadangan minyak bumi diperkirakan akan habis dalam waktu yang tidak lama lagi. Hal ini menimbulkan krisis energi, sehingga orang lalu mencari alternatif lain yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti. Yang sering kita dengar adalah biofuel, yaitu bahan bakar yang dapat terbarukan berupa gas, padat atau cair yang dihasilkan dari material biologis seperti tumbuhan atau kotoran hewan. Misalnya minyak yang dihasilkan dari biji-bijian seperti jagung, kedelai, jarak.

Belum lama berselang, negara-negara eropa yang tergabung dalam uni eropa mentargetkan bahwa pada tahun 2020, 10 persen dari bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan diperoleh dari tumbuhan pertanian. Namun banyak ilmuwan yang memperkirakan bahwa target tersebut akan sulit untuk dicapai. Selama tahun 2007 uni eropa hanya mampu memproduksi 5,7 juta ton biofuel, jumlah tersebut hanya 2 persen dari total kebutuhan. Biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi biofuel sangat mahal(pupuk, panen, transportasi, dll.). Tumbuhan yang menghasilkan biofuel membutuhkan lahan yang luasnya sama dengan lahan pertanian untuk menanam tanaman yang menghasilkan makanan. Sebagai gambaran, untuk setiap satu persen bahan bakar diesel yang akan diganti dengan biodiesel, dibutuhkan lahan seluas satu persen dari total lahan pertanian yang ada.

Hasil penelitian terbaru mengusulkan untuk memproduksi biofuel dari ganggang. Mereka meyakini bahwa ganggang memiliki potensi untuk diubah menjadi minyak yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Memproduksi biofuel dari ganggang akan dapat mengatasi masalah diatas karena ganggang tidak membutuhkan lahan pertanian dan juga tidak membutuhkan pupuk. Ganggang memanfaatkan sinar matahari dan karbondioksida untuk menghasilkan lipid yang dapat diproses menjadi biodiesel. Ganggang tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa dan memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan tumbuhan lain. Sebagai perbandingan, ganggang menghasilkan kurang lebih 10.000 gallon biodiesel per 0,5 hektar, sedangkan kedelai hanya menghasilkan 48 gallon. (di inggris 1 gallon = 4,5 liter)

Ada dua cara untuk memperoleh ganggang, yaitu dengan “memancing” atau “beternak”. “memancing” adalah teknik yang sederhana dan murah dimana ganggang dibiakan di alam bebas. Sedangkan “beternak” lebih canggih, ganggang dibiakkan dalam tangki-tangki bioreaktor dari kaca atau plastik. Perdebatan pun muncul mengenai mana yang lebih baik. Ada yang berpendapat bahwa cara “memancing” memiliki kelemahan karena beberapa variabel seperti temperatur, cahaya, penguapan air, kontaminasi tidak dapat dikendalikan. “beternak” pun memiliki kelemahan karena bioreaktor membutuhkan suplai energi dan pemeliharaannya mahal. Namun pada saatnya nanti ketika pihak-pihak komersial mulai terlibat dan produksi dilakukan dalam jumlah besar, perdebatan itu akan selesai dengan sendirinya berdasarkan hukum-hukum ekonomi.

Setelah ganggang berhasil diperoleh selanjutnya adalah mengambil minyaknya. Metode yang sederhana adalah dengan mengeringkannya lalu diperas sehingga keluar minyaknya. Cara yang lebih modern melibatkan penggunaan cairan kimia. Namun telah dikembangkan juga metode lain yaitu dengan memanfaatkan gelombang ultrasonic untuk meluruhkan tembok sel ganggang sehingga minyak akan keluar dan kemudian disaring. Metode lain yang juga dikembangkan adalah dengan memanfaatkan bakteri yang proses metabolismenya akan menghasilkan minyak yang diinginkan.

Biofuel tidak dapat dipakai dalam industri penerbangan karena mudah membeku pada temperatur dibawah nol yang dapat terjadi di ketinggian tertentu. Namun telah berhasil diciptakan kerosin berbasis ganggang yang dapat digunakan untuk mesin jet komersial ataupun militer dari jenis ganggang tertentu yang secara alami menghasilkan minyak yang serupa dengan minyak untuk industri penerbangan. Ini merupakan satu keunggulan lagi untuk ganggang dibandingkan tumbuhan pertanian.

Mudah-mudahan hasil-hasil penelitian bahan bakar alternatif dapat segera dikomersialisasi dan diadopsi secara luas sehingga dunia terhindar dari ancaman krisis energi dan pemanasan global.

Latest posts by gregor (see all)

1 thought on “alternatif mengatasi krisis energi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*