MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok

Dari berita di televisi sore ini saya dengar bahwa akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang mengharamkan rokok. Fatwa haram tersebut berlaku bagi :

1. Anak-anak
2. Wanita hamil
3. Perokok di tempat umum

Saya yakin banyak perokok yang akan sadar diri dan berusaha untuk tidak lagi merokok di tempat umum, karena orang indonesia adalah orang yang taat pada agamanya. Mudah-mudahan dengan begini semakin banyak ruang publik yang menjadi lebih nyaman dan bersih karena bebas asap dan puntung rokok. Lebih banyak orang yang kesehatannya tidak terganggu karena tidak lagi menjadi perokok pasif. Uang yang seharusnya untuk berobat akibat kesehatan terganggu karena menjadi perokok pasif sebagian bisa ditabung, sebagian untuk beli produk indonesia.

Bagi perokok, dengan tidak lagi merokok di sembarang tempat, berarti ada kemungkinan sebungkus rokok yang biasanya habis dalam sehari baru habis dua hari. Uang rokok bulanan bisa berkurang, sisanya bisa ditabung sebagian, sebagian lagi untuk beli produk indonesia. Bank akan senang kalau banyak yang menabung. Uang tabungan dari perokok dan perokok pasif disalurkan sebagai kredit bagi pengusaha kecil dan menengah untuk menggerakkan perekonomian rakyat (produk indonesia). Fungsi intermediasi bank dapat berjalan dengan baik.

Namun kalo begini, berarti penjualan rokok bisa menurun. Perusahaan rokok kurang senang. Pekerja di perusahaan rokok bisa di-PHK. Akan ada pengangguran. Mungkin bisa pinjam uang di bank untuk memulai usaha sendiri(produk indonesia). Atau mungkin sebaiknya perusahaan rokok memikirkan untuk mencari lebih banyak pasar di luar negeri sehingga penjualannya tidak menurun. Dengan ekspor malah bisa meningkatkan devisa.

alternatif mengatasi krisis energi

Cadangan minyak bumi diperkirakan akan habis dalam waktu yang tidak lama lagi. Hal ini menimbulkan krisis energi, sehingga orang lalu mencari alternatif lain yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti. Yang sering kita dengar adalah biofuel, yaitu bahan bakar yang dapat terbarukan berupa gas, padat atau cair yang dihasilkan dari material biologis seperti tumbuhan atau kotoran hewan. Misalnya minyak yang dihasilkan dari biji-bijian seperti jagung, kedelai, jarak.

Belum lama berselang, negara-negara eropa yang tergabung dalam uni eropa mentargetkan bahwa pada tahun 2020, 10 persen dari bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan diperoleh dari tumbuhan pertanian. Namun banyak ilmuwan yang memperkirakan bahwa target tersebut akan sulit untuk dicapai. Selama tahun 2007 uni eropa hanya mampu memproduksi 5,7 juta ton biofuel, jumlah tersebut hanya 2 persen dari total kebutuhan. Biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi biofuel sangat mahal(pupuk, panen, transportasi, dll.). Tumbuhan yang menghasilkan biofuel membutuhkan lahan yang luasnya sama dengan lahan pertanian untuk menanam tanaman yang menghasilkan makanan. Sebagai gambaran, untuk setiap satu persen bahan bakar diesel yang akan diganti dengan biodiesel, dibutuhkan lahan seluas satu persen dari total lahan pertanian yang ada. Continue reading “alternatif mengatasi krisis energi”