mutasi sim dari poltabes denpasar bali ke polres sleman jogja

Proses mutasi perpanjangan SIM (Surat Ijin Mengemudi) di POLRES SLEMAN sangat mudah dan cepat. Itulah yang saya alami. Reformasi birokrasi di POLRES Sleman untuk urusan SIM demi layanan yang cheaper, better, faster saya nilai sudah baik. Berikut ini adalah pengalaman saya melakukan mutasi SIM A dan C dari Denpasar ke Jogja.

Langkah pertama adalah mencabut berkas di POLTABES Denpasar. Untuk menghemat biaya transportasi Jogja-Denpasar, saya minta tolong adik saya di Denpasar untuk mengurus pencabutan SIM A dan C saya. Untuk itu dokumen yang harus disiapkan dan dikirim via pos antara lain :

  1. Surat kuasa bermeterai (contoh dapat diunduh disini)
  2. Fotocopy SIM A dan C
  3. Fotocopy Kartu Keluarga (KK) Jogja
  4. Fotocopy KTP Jogja

Dia pun segera menuju bagian mutasi SIM di POLTABES Denpasar. Proses pencabutan berkas hari itu juga langsung beres. Yang diperoleh antara lain surat pengantar untuk proses di Sleman, lembar yang berisi daftar SIM yang menunjukkan bahwa SIM saya memang terdaftar disana, fotocopy SIM A & C & KK & KTP yang diberi cap POLTABES Denpasar.

Setelah menerima berkas dari adik, keesokan harinya waktu masih pagi sekitar jam 8 saya pun langsung menuju POLRES Sleman. Di bagian perpanjangan SIM terdapat 2 orang petugas di meja informasi. Berkas saya serahkan dan langsung dicek. Ternyata ada yang kurang, yaitu surat keterangan dokter. Petugas mengatakan, surat tersebut dapat diperoleh di dokter Ana yang praktek diseberang pintu keluar POLRES Sleman.

Dengan membawa berkas, saya langsung menuju kesana berjalan kaki. Berkas saya serahkan ke asisten dokter lalu duduk untuk mengantri dan menunggu dipanggil. Ketika giliran saya tiba, dokter Ana menanyakan berat badan dan apakah saya memakai kaca mata lalu meminta saya untuk membaca angka berwarna-warni di mejanya untuk menguji apakah penglihatan saya masih baik. Selain itu beliau juga mengukur tekanan darah. Keseluruhan proses tidak lebih dari 5 menit dan selembar surat keterangan pun sudah jadi dengan membayar Rp. 20.000,- rupiah.

Kembali ke bagian SIM menuju petugas informasi untuk menyerahkan berkas yang sudah dilengkapi dengan surat keterangan dokter lalu duduk untuk menunggu panggilan. Setelah dipanggil dan berkas dikembalikan, langsung menuju ke loket Bank BRI yang berada di ruangan tersebut untuk menunjukkan berkas dan membeli formulir perpanjangan SIM A Rp. 80.000,- dan SIM C Rp. 75.000,- . Setelah membayar, berkas dan formulir tidak langsung diberikan tapi menunggu panggilan dari loket III. Setelah dipanggil oleh loket III, diminta untuk mengisi formulir dan bukti pembelian formulir. Pengisian dapat dilakukan di meja yang telah disediakan. Contoh cara pengisian juga disediakan.

Sayangnya saya lupa membawa pulpen. Untung saja ada ibu yang baik hati dan bersedia meminjamkan pulpennya. Maka dari itu saya ingatkan anda, bawalah pulpen sendiri. Jika beruntung memang bisa pinjam dari orang lain, tapi kalau tidak maka akan kebingungan seperti beberapa orang yang saya lihat.

Setelah selesai mengisi, berkas dan formulir dikembalikan ke loket III yang segera dicek oleh petugas. Jika sudah oke, diberi nomor antrian untuk foto di loket IV. Tak lama kemudian ada panggilan dari loket IV untuk foto. Sebelum foto, diminta untuk tanda tangan di selembar kertas kecil sebagai specimen untuk di SIM nantinya. Proses pengambilan foto dan pemindaian sidik jari jempol kiri & kanan tidak lebih dari 5 menit. Selanjutnya menunggu dipanggil lagi untuk mengambil sim yang sudah jadi. Tidak sampai 15 menit, SIM A dan C saya sudah jadi. Total biaya Rp. 175.000,-

peraturan perundangan terkait egovernment

Teman-teman MMTC yang ingin mendapatkan materi tentang peraturan perundangan terkait egovernment dapat mengunduh disini.

daftar gaji PNS tahun 2012

February 21, 2012 by gregor · Leave a Comment
Filed under: Political corruption, indonesia 

Bagi yang belum percaya bahwa gaji PNS itu kecil, dapat mengunduh dan melihat tabel gaji pegawai negeri sipil tahun 2012 disini.

keuntungan menjadi koruptor

January 23, 2011 by gregor · Leave a Comment
Filed under: Political corruption, indonesia 

Vonis 7 tahun penjara yang dijatuhkan untuk koruptor gayus tambunan sungguh tidak memenuhi rasa keadilan bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Walaupun ada yang berpendapat bahwa hukuman tersebut sudah cukup layak. Jika melihat dari apa yang dialami oleh koruptor gayus tambunan, menjadi koruptor di indonesia hingga saat ini memang terkesan enak dan menggiurkan. Berikut ini sebagian kecil keuntungan yang diperoleh oleh koruptor gayus tambunan :

1. Terkenal
Semakin besar uang yang dikorupsi membuat koruptor semakin terkenal bak selebritis. Banyak orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan pun bahkan tidak bisa menjadi terkenal dan mendapat perhatian seperti koruptor. Melakukan kejahatan dan diketahui orang banyak semestinya menjadi sesuatu yang memalukan bagi sang pelaku. Namun saat ini rupanya menjadi terkenal karena korupsi adalah sesuatu yang justru membanggakan. Tidak sedikit pun telihat rasa malu, khawatir atau perasaan negatif lain pada wajah sang koruptor ketika terlihat di layar kaca.

2. Hidup nyaman
Meskipun hidup dalam tahanan, hidup koruptor tetap nyaman. Di layar kaca kelihatannya sang koruptor tinggal di balik terali besi. Ketika kamera pergi mungkin saja ia juga pergi ke ruangan yang lebih nyaman
dengan fasilitas lengkap bak hotel berbintang. Maka tidak heran jika sang koruptor bukannya makin kurus tapi makin gemuk saja. Rakyat seperti pemulung, petani, nelayan, buruh pabrik yang bekerja keras
dengan halal setiap hari pun belum tentu mendapat kesempatan untuk menikmati fasilitas hotel berbintang seperti itu dalam hidupnya. Read more

dukung liga primer indonesia

January 7, 2011 by gregor · Leave a Comment
Filed under: Political corruption, indonesia 

Saya kecewa ketika mendengar bahwa pengurus PSSI sedang pergi ke Qatar sehingga tidak ada satu pun yang datang dalam pertemuan yang diadakan untuk menyelesaikan silang sengketa penyelenggaraan Liga Primer Indonesia (LPI). Apakah dari sekian banyak pengurus PSSI semuanya pergi ke Qatar? Sekali lagi pengurus PSSI menunjukkan bahwa mereka tidak profesional dan arogan.

Mengapa juga mereka menentang penyelenggaraan LPI. Bukankah semakin banyak kompetisi yang diadakan, akan semakin baik bagi perkembangan sepak bola di Indonesia. Ancaman FIFA yang akan memberikan sanksi jika LPI tetap diselenggarakan, juga terdengar aneh. Seharusnya mereka memberikan dukungan. Mungkin mereka takut kalau sepak bola Indonesia maju.

Ada juga suara yang menganggap bahwa penyelenggaraan LPI yang mengatasnamakan kemajuan sepak bola Indonesia hanyalah kedok semata. Tujuan utamanya adalah untuk mencari uang. Jika benar bahwa sepak bola menghasilkan banyak uang, jangan-jangan itu alasan PSSI untuk melarangnya. Mungkin PSSI tidak rela ada pihak lain yang juga menikmati uang dari sepak bola.

Ada juga demonstrasi yang membela PSSI. Mereka bilang LPI penuh dengan konflik kepentingan dan merupakan konspirasi untuk menjatuhkan PSSI. Hari gini masih ada pendemo yang membela pengurus PSSI…. jangan-jangan mereka dibayar….

Berita terakhir tentang PSSI, KPK akan menindak tegas pengurus PSSI jika tidak memberikan laporan keuangan secara transparan. Mari dukung LPI dan reformasi PSSI untuk kemajuan sepak bola Indonesia…

Next Page »