orang tua dan disiplin berlalu-lintas
Sudah cukup lama di beberapa perempatan jalan besar di jogja dipasangi spanduk berwarna kuning dengan tulisan yang menyebutkan jumlah orang yang tewas akibat mengalami kecelakaan lalu lintas.
Menurut saya ini adalah hal positif yang dilakukan oleh kepolisian untuk secara psikologis menyadarkan orang agar lebih berdisiplin dalam berlalu-lintas. Memang kondisi lalu lintas di jogja saat ini sudah semakin padat dan semrawut, sedangkan disiplin berlalu-lintas makin turun. Saya sering melihat pengendara sepeda motor yang berbuat seenaknya di jalanan, baik pria maupun wanita. Saya juga sering mendengar keluhan dari beberapa teman tentang bagaimana ganasnya para pengguna jalan raya terutama yang mengendarai sepeda motor.
Ada yang mengatakan bahwa disipilin dalam berlalu lintas mencerminkan kedisiplinan suatu bangsa. Banyak pendatang dari berbagai daerah ada di jogja, sehingga jogja dapat dikatakan sebagai miniatur indonesia. Jadi disiplin berlalu-lintas yang rendah di jogja adalah cerminan dari rendahnya kedisiplinan bangsa indonesia :((
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?
Mungkin kisah berikut ini bisa jadi salah satu penyebabnya. Saya teringat beberapa waktu lalu pernah ngobrol dengan ibu dari seorang teman. Beliau bercerita bahwa dalam sebuah pertemuan ibu-ibu, ada seorang ibu (Ibu X) yang memarahi anaknya yang kelas 5 SD karena mendapat laporan bahwa si anak ngebut dan ugal-ugalan sewaktu mengendarai sepeda motor ketika hendak menjemput Ibu X. Menurut ibunya teman saya, si anak dimarahi habis-habisan dihadapan teman-teman Ibu X. “Ibu kan sudah bilang, boleh naik motor tapi tidak boleh ngebut!”, bentak Ibu X. Dan banyak lagi omelan lain kepada si anak.
Kasihan sekali Ibu X, beliau tidak sadar bahwa yang salah sebenarnya adalah dirinya sendiri. Seharusnya sejak awal dia tidak mengijinkan anaknya untuk belajar naik motor. Anak kelas 5 SD tidak bisa disalahkan begitu saja karena secara psikologis memang belum bisa mengendalikan emosi. Jangankan anak SD, orang dewasa pun kalau naik motor suka menikmati asyiknya naik motor dengan kecepatan tinggi dan zig-zag di jalan raya.
Sangat disayangkan bahwa justru banyak orang tua yang kurang menyadari peranannya dalam ikut menegakkan disiplin berlalu-lintas dengan cara mengikuti aturan polisi tentang batas umur seseorang boleh mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum. Beberapa tidak tega mendengar rengekan anaknya yang ingin belajar naik motor karena sudah bosan naik sepeda, bahkan ada yang bangga kalau anaknya sudah bisa naik motor sejak usia muda.
Mungkin sebaiknya ada pelajaran tentang disiplin berlalu-lintas di sekolah-sekolah agar anak-anak sejak usia dini sudah paham tentang disiplin berlalu-lintas.







